PENGUKURAN CURAH HUJAN WILAYAH UM


Baiklah teman-teman kali ini aku berbagi tentang laporan pengukuran curah hujan yang dilakukan di universitas negeri malang. semoga bermanfaat !!!!!!!   


LAPORAN
PENGUKURAN CURAH HUJAN WILAYAH UM
Disusun untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Hidrologi



 


DOSEN PEMBIMBING :
FATIYA ROSYIDAH


DISUSUN OLEH:
ZAHROH HAYATI 


Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Geografi
Universitas Negeri Malang
2017/2018





A.  Landasan teori
Hujan adalah sebuah peristiwa turunnya butir-butir air yang berasal dari langit ke permukaan bumi. Hujan juga merupakan siklus air di planet bumi. Definisi hujan yang lainnya adalah sebuah peristiwa Presipitasi (jatuhnya cairan yang berasal dari atmosfer yang berwujud cair maupun beku ke permukaan bumi) berwujud cairan.
Hujan membutuhkan keberadaan lapisan atmosfer tebal supaya dapat menemui suhu di atas titik leleh es di dekat dan di atas permukaan Bumi. hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara. Virga adalah presipitasi yang jatuh ke Bumi namun menguap sebelum mencapai daratan; inilah satu cara penjenuhan udara. Pada umumnya hujan yang jatuh ke permukaan bumi berdiameter 200 mikrometer atau lebih. Jika kurang dari itu maka ia akan menguap sebelum sampai ke permukaan bumi akibat bergesekan dengan lapisan udara.
Menurut asdak (2002) hujan akan terjadi apabila berlangsung 3 kejadian sebagai berikut :
1.      Kenaikan massa uap air ke tempat yang lebih tinggi sampai atmosfer jenuh.
2.      Terjadi kondensasi atas partikel-partikel uap air di atmosfer.
3.      Partikel-partikel uap air tersebut bertambah besar seiring berjalannya waktu, yang kemudian jatuh ke bumi dan permukaan laut sebagai hujan karena gaya grafitasi.
Hujan adalah satu peristiwa yang sering kita rasakan dalam kehidupan sehari- hari. Tuhan menciptakan proses yang yang sedemikian rupa bukan tanpa alasan. Seperti halnya hujan. Dibalik terjadinya hujan manusia akan mendapatkan banyak sekali manfaat. Manfaat- manfaat hujan ini akan dirasakan manusia dan juga makhluk hidup lainnya. Bahkan tidak hanya makhluk hidup saja, namun hujan juga akan memberikan manfaat bagi Bumi yang kita tempati ini. Di antara manfaat hujan adalah : Menyuburkan tanaman, Persediaan air minum, Sebagai sumber perekonomian sebagian masyarakat, Mendukung keberhasilan dalam bercocok tanam, Sumber tenaga listrik, Menghemat air tanah, Menjaga kelangsungan hidup manusia, dan Memperbaiki kualitas udara.
Menurut Sri Harto(1985), Linsley dkk (1986), data hujan yang diperlukan dalam analisa hidrologi memiliki 5 unsur penting yaitu :
a)      Intensitas (I), Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan dalam satuan waktu tertentu, misalnya mm/detik,mm/menit,mm/jam,mm/hari,mm/tahun. Besarnya intensitas hujan berbeda tergantung dari lama waktu terjadinya hujan dan frekuensi nya. Intensitas curah hujan yang tinggi pada umumnya berlangsung pada durasi pendek dan cakupan daerah yang tidak luas. Hujan yang meliputi daerah cakupan yang luas dengan intensitas hujan yang tinggi sangat jarang terjadi, tetapi dapat terjadi dalam durasi waktu yang lama. Kombinasi dari intensitas hujan yang tinggi dengan durasi panjang jarang terjadi, apabila terjadi berarti sejumlah besar volume air bagaikan ditumpahkan dari langit. (Suroso,2006).
b)      Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, tidak mengalir keluar dari tempat tersebut. Curah hujan merupakan ketebalan hujan yang di ukur dalam ukuran millimeter  atau centimeter.
c)      Lama waktu (duration) (t), adalah lamanya curah hujan dalam menit atau jam.
d)     Frekuensi (T) adalah frekuensi kejadian, yang dinyatakan dengan waktu ulang.
e)      Luas, adalah luas geografis curah hujan.

1)      Metode pengukuran curah hujan
Dalam menghitung curah hujan rata-rata suatu wilayah yang di perhitungkan berdasarkan data hujan lokal dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu metode rata-rata aljabar (arithmetic mean method),metode rerata polygon thiessen, dan rerata garis isohyet.
a.       Metode rata-rata aljabar (arithmetic mean method)
Metode ini merupakan metode paling sederhana, yaitu dengan menghitung rata-rata secara secara langsung dengan cara menjumlahkan data curah hujan beberapa titik pengamatan dibagi dengan jumlah titik pengamatan. Syarat curah hujan yang dapat dirata-ratakan dengan metodde ini  adalah :
·         Daerah cukup datar
·         Jarak antar stasiun relative sama.
·         Curah hujan nya seragam.
·         Cakupan wilayah tidak cukup luas.
Rumus nya adalah :
P = P1 + P2 +P3 +.........
                     n

                                    P          = Rata-rata curah hujan wilayah (mm)
                                    P1,2,3..n  = curah hujan pada stasiun 1,2,3,n
                                    n          = jumlah stasiun.
Perhitungan metode rata-rata curah hujan dengan rata-rata aljabar memiliki keuntungan yaitu :
·         Mudah dalam perhitungan nya
·         Hasil perhitungan sangat objektif
Tetapi juga memiliki kelemahan yakni tidak memberikan hasil yang teliti karena tidak mungkin curah hujan yang sesungguhnya benar-benar merata.

b.      Metode rerata polygon theissen.
Cara ini selain mempertimbangkan ketebalan hujan dan jumlah stasiun juga memperkirakan luas wilayah yang diwakili masing-masing stasiun.Dipakai pabila peyebaran titik-titik pengamatan didaerah yang bersangkutan tidak merata. Caranya adalah dengan menarik garis hubung antara ,asing-masing stasiun, kemudian menarik garis sumbu dari garis-garis hubung tersebut. Adapun syarat curah hujan yang dapat diratakan dengan metode ini adalah :
·         Jarak antar stasiun tidak sama
·         Daerah cakupan luas
Perhitungan ini memiliki ketelitian lebih tinggi dibanding rata-rata cara aljabar, karena dalam polygon theissen memperhitungkan factor luas pengaruh curah hujan. Akan tetapi penentuan stasiun pengamatan dan pemilihan ketinggian akan mempengaruhi ketelitian hasil.
Rumusnya  :
P  = A1.P1 + A2.P2 + A3.P3 +........
               A1 + A2 +A3+ n
                                    P          = Rata-rata curah hujan wilayah (mm)
                                    P1,2,3..    = Curah hujan masing-masing stasiun (mm)
                                    A123..     =  Luas pengaruh masing-masing stasiun (km)
c.       Metode rerata isohyets
Isohyets memperhitungkan secara actual pengaruh tiap-tiap pos penakar hujan. Metode ini cocok untuk daerah berbukit dan tidak teratur dengan luas lebih dari 5000 km2. Curah hujan wilayah dihitung berdasarkan jumlah perkalian antara luas masing-masing bagian isohyets dengan curah hujan dari setiap wilayah yang bersangkutan kemudian dibagi luas total daerah tangkapan air.

B.  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah :
1.      Mahasiswa mampu mendekripsikan distribusi ketebalan hujan di UM.
2.      Mahasiswa mampu mendeskripsikan distribusi intensitas curah hujan di UM.
3.      Mahasiswa mampu membandingkan rata-rata curah hujan dengan metode aljabar dan polygon theissen.
4.      Mahasiswa mampu mendeskripsikan volume hujan di wilayah UM.
C.  Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran curah hujan terdiri atas
a.       Ombrometer
b.      Botol aqua 600 ml
c.       Tiang penyangga (yslon)
d.      stopwaatch
e.       Alat tulis
f.       Penggaris
g.      Google earth
h.      Denah UM
i.        Kertas grafik
j.        Kalkulator

D.  Cara kerja
Beberapa cara kerja dalam pengukuran curah hujan adalah sebagai berikut :
1)         Pengambilan sampel di lapangan
a.       Ikuti persyaratan pemasangan alat penakar hujan yang benar yakni :
·         Diletakkan pada tempat yang tidak selalu terjadi angin kencang.
·         Tinggi corong dari permukaan tanah diletakkan sedemikian rupa sehingga pengaruh angin dapat ditekan sekecil mungkin.
·         Alat penakar hujan harus diletakkan minimal berjarak 4 kali tinggi rintangan (pohon,bangunan, dan sebagainya ) yang terdekat.
·         Tempat pengukuran tidak over-expose atau under-expose.
·         Aman terhadap gangguan luar (orang dan binatang)
·         Tempat dekat dengan tenaga pengamat.
·         Syarat teknis alat harus terpenuhi.
·         Kerapatan jaringan alat sesuai dengan ketentuan.
b.      Masukkan botol aqua 600 ml ke dalam ombrometer.
c.       Menyatukan ombrometer dengan yalon menggunakan lakban.
d.      Menggali tanah dengan menggunakan benda tajam.
e.       Menancapkan yalon yang sudah menyatu dengan ombrometer ke tanah yang sudah di gali, usahakan posisi yalon tegak lurus terhadap permukaan tanah.
f.       Mengganjal yalon menggunakan batu agar tidak mudah rubuh.
g.      Memfoto lokasi menggunakan GPS essential untuk menentukan garis koordinat.
h.      Menyiapkan stopwatch dan mengaktifkannya ketika hujan.
i.        Menutup botol aqua agar air yang terkumpul tidak menguap

2)    Pengukuran sampel di laboratorium
a.       Menyiapkan gelas ukur berukuran 250 ml, 25 ml, 10 ml
b.      Menuang air hujan  ke dalam gelas berukuran 250 ml hingga penuh.
c.       Menuangkan sisa air hujan ke dalam gelas ukur 25 ml hingga penuh.
d.      Menuangkan sisa air hujan ke dalam gelas ukur 10 ml menggunakan corong atau pipet hingga penuh.
e.       Mencatat dan menjumlahkan hasil air yang telah diukur menggunakan gelas ukur.

3)      Cara kerja menghitung luasan daerah (polygon theisen) dan mendeliniasi wilayah pengamatan.
a.       Menghitung ketebalan dan intensitas curah hujan setiap stasiun.
b.      Mencari peta dasar wilayah um yang akan dihitung melalui google map atau google earth.
c.       Menentukan dan mendeliniasi batas-batas UM dengan google earth secara teliti.
d.      Memasukkan titik koordinat setiap stasiun dan memberikan penanda.
e.       Menhubungkan setiap symbol stasiun dengan garis penghubung sebelum menghitung menggunakan metode polygon theissen.
f.       Setelah peta dasar selesai dideliniasi, masukkan data data yang berhubungan dengan perhitungan curah hujan metode polygon theissen maka atur skala dan di cetak.

E.  Hasil
Wilayah : Universitas Negeri Malang
Stasiun penadah hujan            :
a)      Asrama putra
b)      Fmipa
c)      Perpustakaan
d)     Asrama putri
e)      Lapangan A2
Diameter penadah hujan         : 11,2 cm
Jari- jari                                   : 5,6 cm
1)      TEBAL HUJAN MASING-MASING STASIUN

Rumus tebal hujan :     volume
                                    luas alat

hasil dari perhitungan tebal hujan di setiap tempat di wilayah UM
a.       Asrama putra            (292ml = 292cm3)
                        A = 3.14 . (5,6)2
                            = 98,47 cm2
                        Tebal = 292 cm3 / 98,47 cm2  = 2,965 cm            = 29,65 mm

b.      FMIPA                       (289ml = 289cm3)
Tebal = 289 cm3 /  98,47 cm2   = 2,934 cm           = 29,34 mm
c.       Perpustakaan            (303,5ml = 303,5 cm3)
 Tebal = 303,5 cm3 / 98,47 cm2   = 3,082cm         = 30,82mm
d.      Asrama putri             (303,8ml = 303,8cm3)
 Tebal = 303,8 cm3 / 98,47 cm2   = 3,085cm         = 30,85 mm
e.       Lapangan A2 (305ml = 305 cm3)
Tebal = 305 cm3 / 98,47 cm2   = 3,097 cm            = 30,97mm

                                        
2)      INTENSITAS HUJAN SETIAP STASIUN
Rumus menghitung intensitas hujan =   tebal hujan
                                                                    waktu

a.      Asrama putra
Intensitas =  29,65 mm / 1,3 jam     =  22,80 mm/jam

b.      FMIPA
Intensitas =  29,34 mm / 1,1 jam      =  26,67mm/jam

c.       Perpustakaan
 Intensitas = 30,82 mm / 1,32 jam     = 23,35 mm/jam

d.      Asrama putri
Intensitas = 30,85 mm / 1,33 jam      = 23,19 mm/jam

e.       Lapangan A2
Intensitas =  30,97 mm / 1,28 jam     = 24,19 mm/jam

3)      PERHITUNGAN METODE RATA-RATA ARITMATIK
Perhitungan rata-rata metode aritmatik menggunakan rumus :

                        P =  P1+P2+P3+..... n
                                            n

Jadi,       =  29,65+29,34+30,82+30,85+30,97    =   30,33 mm
                                                 5


4)      PERHITUNGAN METODE RERATA POLYGON THEISSEN
Perhitungan ini menggunakan rumus :
P = A1.P1 + A2.P2 + A3.P3
             A1 + A2 + A3
            Diketahui luas wilayah polygon tiap stasiun pengamatan adalah sebagai berikut :
            Skala = 1: 1000 feet                                        1000 feet = 30.480 cm
Ø  A (asrama putra)         = kotak x skala
= 30 x 30.480
= 914.400 cm2             = 91,44 m2
Ø  B (FMIPA)                 = kotak x skala
= 34 x 30.480
= 1.036.320 cm2          = 103,63 m2
Ø  C (perpustakaan)         = kotak x skala
= 36 x 30.480
= 1.097.280 cm2          = 109,73 m2
Ø  D (asrama putri)          = kotak x skala
= 16 x 30.480
= 487.680 cm2             = 48,77 m2
Ø  E (lapangan A2)          = kotak x skala
= 33x 30.480
=  1.005.840 cm2         = 100,58 m2
            Rata-rata polygon theiseen :
            P = (91,44 . 29,65) + (103,63 . 29,34) + (109,73 . 30,82) + (48,77 . 30,85) +(100,58 . 30,97)
                                                                                   454,15                                              
          P = 30,28 mm

5)      MENGHITUNG VOLUME
V = luas wilayah x tebal (rata-rata)                             1km2 = 1000000 m2
V = 454,15 m2 x 30,28 mm                                         1mm = 1000 m
    = 454,15m2 x 0,03028 m                                         1 m3   = 1000 dm3 
    = 13,751662 m3                                                       1 dm3 = 1 lt
     = 13.751,662 dm3
    = 13.751,662 lt

NO
LOKASI
LAMA HUJAN
TEBAL
INTENSITAS
HUJAN
1
Asrama putra
1,3 jam
29,65 mm
22,80 mm/jam
SANGAT DERAS
2
FMIPA
1,1 jam
29,34 mm
26,67 mm/jam
SANGAT DERAS
3
Perpustakaan
1,32 jam
30,82 mm
23,35 mm/jam
SANGAT DERAS
4
Asrama putri
1,33 jam
30,85 mm
23,19 mm/jam
SANGAT DERAS
5
Lapangan A2
1,28 jam
30,97 mm
24,19 mm/jam
SANGAT DERAS

F.   Pembahasan
            Hujan (presipitasi) merupakan fenomena hidrologi yang berlangsung di atmosfer. Presipitasi merupakan peristiwa jatuhnya cairan atau zat padat yang berasal dari hasil kondensasi atau pengembunan uap air ke permukaan bumi. Menurut Linsley dkk (1986) presipitasi adalah produk dari awan yang turun berbentuk air hujan atau salju. Beda presipitasi dengan hujan adalah kalau presipitasi merupakan jatuhnya dalam bentuk (air atau salju ) dari atmosfer ke permukaan bumi. Sedangkan hujan merupakan satu bentuk dari presipitasi berupa cairan yang jatuh ke permukaan bumi.
Hujan merupakan komponen terpenting dalam hidrologi,karena peran hujan dalam siklus hidrologi sebagai input .komponen input sangat penting karena tanpa adanya input air hujan ,proses dalam siklus air tidak akan berlangsung.menurut handoko (1986) intensitas hujan adalah curah hujan dibagi dengan selang waktu terjadinya hujan. Intensitas hujan dapat idiukur dengan alat manual ataupun non manual.
Pada praktikum pengukuran curah hujan hidrologi ini terbagi 5 stasiun yang berbeda. Yang pertama adalah asrama putra, yang kedua adalah FMIPA, yang ketiga adalah perpustakaan, yang ke empat adalah asrama putri, dan yang terakhir adalah lapangan A2.  
Pada hasil tebal hujan wilayah kampus UM, tempat dengan tebal hujan terbesar adalah wilayah Lapangan A2  sebesar 30,97 mm, diikuti dengan asrama putri sebesar 30,85mm, diikuti dengan perpustakaan sebesar 30,82mm, selanjutnya diikuti dengan asrama putra sebesar 29,65mm, dan terakhir adalah FMIPA sebesar 29,34mm.
Yang pertama adalah lapangan A2 UM dengan ketebalan hujan 30,97 mm. Hal ini  dikarenakan pengambilan sampel air hujan di lakukan dilapangan yang agak jauh dari bangunan dan tidak terlalu banyak vegetasi sehingga air dapat langsung jatuh ke dalam alat.selain itu juga dipengaruhi oleh angin yang membawa hujan.
Yang ke dua adalah asrama putri dengan intensitas ketebalan hujan sebesar 30,85 mm.dikarenakan pengambilan sampel air yang jauh dari bangunan dan vegetasi.selain itu juga di pengaruhi oleh angin yang membawa hujan.
Yang ketiga adalah perpustakaan dengan ketebalan sebesar 30,82 mm.dikarenakan pada saat pengambilan sampel hujan tidak terhalangi oleh adanya vegetasi dan bangunan yang ada, selain itu juga di pengaruhi oleh angin.
Yang keempat adalah asrama putra dengan ketebalan hujan yang tergolong rendah yaitu 29,65 mm dikarenakan vegetasi yang ada di sekitar daerah tersebut. Sehingga air hujan yang jatuh tidak langsung jatuh ke dalam alat. Tetapi terhalang oleh dedaunan vegetasi yang ada di sekitar tempat tersebut.
Yang terakhir adalah FMIPA dengan ketebalan hujan paling kecil yaitu 29,34 mm. dikarenakan banyak nya vegetasi yang ada di sekitar daerah tersebut. Juga akibat arah angin yang membawa hujan.
Jadi dapat di ambil kesimpulan bahwa ketebalan hujan di pengaruhi oleh vegetasi, banyaknya bangunan yang ada di sekitar daerah tersebut serta arah angin yang membawa hujan.
Pada pembelajaran kali ini adalah tentang penghitungan intensitas serta ketebalan hujan yang ada di sekitar wilayah UM, Yang terdapat di 5 tempat yang berbeda. Intensitas hujan di suatu wilayah berbeda-beda,beberapa factor tersebut adalah :
a.       Letak lintang.
b.      Ketinggian tempat
c.       Posisi dan luas wilayah
d.      Jarak dari pantai
e.       Topografi
f.       Asal dan arah mata angin.
g.      Temperature laut
            Yang pertama adalah FMIPA dengan intensitas hujan sebesar 26,67 mm/jam hal ini dikarenakan tempat pengambilan sampel hujan terletak pada daerah yang agak rendah dibandingkan daerah sekitar nya. Karena Semakin tinggi suatu tempat maka semakin rendah curah hujan yang diterima tempat tersebut, begitu sebaliknya.
Yang kedua adalah lapangan A2 UM dengan intensitas hujan 24,20  mm/jam
Yang ketiga adalah perpustakaan dengan intensitas hujan sebesar 23,35 mm/jam
Yang ke empat adalah asrama putri dengan intensitas hujan sebesar 23,20 mm/jam
Yang kelima adalah asrama putra dengan intensitas hujan sebesar 22,81 mm/jam.
            Intensitas hujan di lingkungan UM berbeda dikarenakan beberapa factor salah satunya adalah adanya perbedaan tinggi bangunan dan vegetasi yang ada di sekitar tempat pengambilan curah hujan menghalangi jatuh ke bawahnya tetes air hujan. Selain itu ketebalan dan waktu atau durasi terjadinya hujan juga mempengaruhi intensitas hujan. Karena . Besarnya intensitas curah hujan berbeda-beda tergantung dari lamanya curah hujan dan frekuensi kejadiannya. Intensitas hujan yang tinggi pada umumnya berlangsung dengan durasi pendek dan meliputi daerah yang tidak sangat luas.
Hujan yang meliputi daerah luas, jarang sekali dengan intensitas tinggi, tetapi dapat berlangsung dengan durasi cukup panjang.Kombinasi dari intensitas hujan yang tinggi dengan durasi panjang jarang terjadi.
Yang selanjutnya adalah mencari rata-rata curah hujan menggunakan 2 metode.yang pertama adalah metode aritmatik atau aljabar. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana karena hanya menjumlahkan curah hujan disetiap stasiun lalu membagi nya dengan jumlah stasiun yang ada. Cukup mudah dan tidak terlalu ribet. Dengan metode ini maka didapatkan jumlah rata-rata hujan wilayah UM adalah 30,33.
Kemudian mencari rata-rata curah hujan dengan metode polygon theissen. Metode ini sedikit lebih rumit karena mempertimbangkan luasan daerah setiap stasiun. Akan tetapi memiliki ketelitian yang lebih daripada metode aljabar. Kita harus mencari luas daerah dari hasil pencitraan google earth dan memindahkannya ke kertas grid. Lalu menghitung luas setiap stasiun dengan menghitung jumlah kotak dikalikan dengan skala peta tersebut. Dengan metode ini maka didapatkan hasil rata-rata curah hujan wilayah UM adalah 30,28 mm.
Jika dibandingkan selisih antara keduanya, maka kita akan mendapatkan selisih antara keduanya berkisar 0,05 mm. dan untuk mengukur curah hujan di UM menurut kami lebih mudah menggunakan metode aritmatik, mengingat bahwa curah hujan di wilayah UM tidak berbeda jauh antara satu stasiun dengan stasiun yang lain. Dan jika dilihat dari selisih antara ke duanya, kita mendapati bahwa selisihnya tidak terlalu berbeda hanya berkisar 0,05 mm. maka ditinjau dari itu kami beranggapan untuk menghitung curah hujan rata-rata wilayah UM cukup dengan menggunakan metode aritmatik.
Untuk menghitung volume hujan kami menggunakan data yang diperoleh dari proses deliniasi menggunakan google earth.
G. Kesimpulan
Dari percobaan praktikum mengukur curah hujan diwilayah UM ini kami dapat mengambil kesimpulan bahwa factor yang mempengaruhi ketebalan dan intensitas curah hujan di wilayah UM adalah vegetasi serta bangunan yang ada disekitarnya. Selain itu juga ada pengaruh dari angin yang membawa hujan tersebut. Durasi waktu dan luas daerah juga sangat menetukan intensitas hujan yang terjadi, karena jarang sekali terjadi hujan dengan intensitas tinggi ditempat cakupan yang luas diikuti dengan durasi yang panjang.
Adapun metode yang cocok untuk menghitung rata-rata curah hujan UM adalah metode aritmatik. Karena mengingat bahwa perbedaan ketelitian hanya berkisar sekitar 0,05 mm. dan curah hujan yang terjadi di setiap stasiun juga tidak berbeda jauh. Metode aritmatik juga lebih sederhana dibandingkan dengan metode polygon theissen dimana kita harus menghitung jumlah luas daerah setiap stasiun.
Adapun volume curah hujan di wilayah UM berkisar 13.751,662 lt.

H.  Daftar pustaka
Utaya,sugeng. 2013. Pengantar hidrologi. Malang : aditya media publishing.
https://mtnugraha.wordpress.com/2009/04/02/metode-intensitas-curah-hujan/



Komentar

Postingan Populer