PERMASALAHAN AIR BESERTA ALTERNATIF PENANGGULANGANNYA di DAERAH BANTARAN SUNGAI


PERMASALAHAN AIR BESERTA ALTERNATIF PENANGGULANGANNYA di DAERAH BANTARAN SUNGAI
Oleh : Zahroh Hayati
Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Malang


Abstrak
Air adalah sumber daya alam yang sangat vital bagi makhluk hidup. Ketersediaan air dimuka bumi ini mecakup 70 % dari luas bumi. Ini artinya bahwa bumi memiliki ketersediaan air yang sangat berlimpah. air di muka bumi terdiri dari air laut, air danau, air sungai, dan lain-lain.namun air yang biasanya dapat digunakan oleh manusia secara langsung adalah air tawar. Sedangkan persentasi air tawar yang ada dipermukkaan bumi hanya berisar 3% saja. Sisanya adalah air laut yang jelas tidak dapat dikonsumsi oleh manusia secara langsung melainkan harus diproses terlebih dahulu. Bagi manusia air digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti : minum, mandi, menyirami tanaman. Manusia hidup sangat tergantung terhadap ketersediaan air. Namun tidak pernah memikirkan ketersediaan air di masa mendatang. 
Pendahuluan
Ketersediaan air bersih untuk masyarakat adalah hal yang sangat penting dilakukan oleh pemerintah karena memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.namun saata ini masyarakat memiliki anggapan bahwa air adalah benda yang ,udah didapatkan dan tidak memiliki harga. Sehingga mereka memanfaatkan air dengn semena-mena tanpa memikirkan bagaimana ketersediaan air dimasa yang akan datang. Bagaimana dengan ketersediaan air dimasyarakat saat ini?.
Permasalahannya adalah kualitas air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat. Air yang kebanyakan dikonsumsi oleh masyarakat merupakan air yang tidak memenuhi standart air minum yang sehat. Masih banyak masyarakat terutama yang tinggal di sekitar bantaran sungai belum bisa mengecap ketersediaan air bersih. Mereka menggunakan air sungai yang telah tercemar untuk membersihkan badan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini tentu saja sangat tidak baik bagi kesehatan masyarakat.
Karena air tersebut telah tercampur dengan sampah, kotoran, serta limbah-limbah pabrik. Bahkan dengan perkembangan kota  dan penduduk mengakibatkan kurang nya daerah resapan air. daerah perkotaan yang di bangun dengan gedung-gedung tinggi dan lahan yang beraspal mengakibatkan kurangnya daerah resapan air. sehingga air tidak dapat terinfiltrasi ke dalam tanah. Namun mengalir menuju tempat yang lebih rendah dan terkadang menimbulkan bencana seperti banjir. Asap yang dihasilkan beberapa pabrik dan kendaraan bermotor  memengaruhi kualitas air. air hujan yang turun kepermukaan bumi terkontaminasi dengan zat-zat berbahaya. Kebiasaaan masyarakat membuang sampah dan limbah rumah tangga mereka di sungai-sungai menyebabkan air tercemar bahkan hewan-hewan air pun mati.
Metode
Adapun metode yang digunakan untuk mengkaji masalah ini adalah study literature dengan membaca dan menganalisis permasalahan air di Indonesia berdasarkan jurnal-jurnal dan buku yang telah ada.
Hasil dan Pembahasan
            Air bersih atau air minum sangat penting artinya bagi kehidupan manusia. Menurut sebuah kajian global mengenai ketersediaan air bersih di dunia yang disampaikan pada world water forum II pada tahun 2000 di Denhaag, mengemukakan bahwa akan terjadi krisis air di berrbagai Negara pada tahun 2025.  Jika tidak diatasi oleh pemerintah maka hal ini bisa saja terjadi di Indonesia. Hingga saat ini masyarakat beranggapan bahwa air merupkan barang social yang mudah didapatkan tanpa perlu biaya ekonomis. Sehingga mereka memanfaatkan air dengan semena-mena. Jika tnggapan ini terus berlangsung akibatnya adalah minimnya ketersediaan air di masa akan datang. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mensosialkan kegiatan yang dapat merubah pandangan masyarakat tersebut. Bahwa air dapat menjadi barang langka dan ekonomis jika terus dieksploitasi secara berlebihan, serta memulai beberapa kegiatan yang mendukung sosialisasi tersebut. Agar masyarkat mulai menyadari pentingnya ketersediaan air bersih bagi kehidupan dan mulai menggunakan air dengan seefisien mungkin.
Pencemaran-pencemaran air yang terjadi di Indonesia biasanya diakibatkan oleh beberapa oknum yang kurang menyadari betapa pentingnya ketersediaan air bagi kehidupan di masa sekarang ataupun mendatang. Apalagi masalah-masalah yng terjadi dikota besar seperti dijakarta. Di Jakarta masalah pencemaran air merupakan hal yang sudah menunjukkan masalah yang cukup serius. Padatnya penduduk serta banyaknya warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai atau tepi kota mengakibatkan sungai-sungai yang ada dijakarta tercemar dan tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Adanya beberapa pabrik industry kecil yang beroperasi didaerah dekat sungai. Sehingga mereka membuang limbah mereka ke sungai yang lebih dekat tanpa pengolahan atau penyaringan terlebih dahulu untuk meminimalisir biaya. Zat-zat berbahaya dari limbah tersebut membahayakan kehidupan hewan-hewan yang ada di sungai. Logam-logam berat yang dapat dengan mudah terlarut bersama air dapat membunuh mikroorganisme di sungai.
Limbah dalam pembahasan ini menurut Joshua (2013) bisa berupa limbah sampah baik itu sampah plastic ataupun sayuran-sayuran. Sampah organic (sampah yang dapat terurai) atau anorganik (yang tidak dapat terurai) yang sudah tidak layak lalu dibuang begitu saja di sungai, Bisa juga berupa air limbah rumah tangga bekas mandi ataupun mencuci pakaian, dan juga limbah kotoran manusia ( human waste) limbah ini jika di buang atau dialirkan secara langsung kesungai akan menimbulkan bakteri-bakteri dan virus penyakit. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya membuang limbah kotoran manusia menjadi penyebab utama dalam masalah ini. Hal ini merupakan hal yang biasa terjadi di daerah perkotaan, diakibatkan jumlah penduduk yang banyak sedangkan lahan perkotaan sangat terbatas dan harganya lumayan mahal.
Salah satu contohnya adalah pencemaran air di Teluk Jakarta. Sungai-sungai yang bermuara ke teluk Jakarta pada umumnya sudah terkontaminasi oleh limbah-limbah buangan, sehingga berpengaruh terhadap kualitas air di teluk itu sendiri. Dapat dilihat bahwa air yang ada diteluk Jakarta tidak lagi jernih bahkan berwarna abu-abu. Semakin banyak sungai-sungai yang tercemar bermuara ke teluk Jakarta ini maka kondisi kualitas air di sini juga akan semakin memburuk. Berikut ini adalah data mengenai kondisi air buangan di Jakarta yang dilansir oleh JICA report pada tahun 2010 :

kondisi buangan air.PNG
Gambar 3. Kondisi air buangan di Jakarta oleh JICA report 2010

Dari table tersebut dapat kita lihat seberapa besar persen air buangan yang ada di Jakarta pada tahun 2010. Adapun persentasi yang paling tinggi adalah air buangan limbah domestic yaitu sekitar 72,7 %. Diikuti dengan air buangan limbah komersial dan perkantoran. Lalu air buangan karena limbah industry.
Akibat secara langsung yang dirasakan oleh masyarakat diantaranya adalah penykit diare. Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa hanya 1,3 % masyarakat yang memiliki toilet. Dilansir dari data Riskesdes tahun 2010 berikut ini adalah presentase jumlah masyarakat yang memiliki sanitasi yang baik menurut golongan kekayaan:
buanga air sembarangan.PNG
Sumber : Riskesdes 2010

Dari data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok masyarakat dengan kekayaan terendah masih banyak yang buang air besar di tempat terbuka seperti di tepian sungai atau bahkan selokan. Kebiasaan sanitasi, kurangnya kebersihan serta meminum air yang tidak mencukupi syarat standart air bersih dan tidak higienisnya makanan yang mereka makan menyebabkan banyak anak-anak yang menderita diare. Berdasarkan laporan Riskesdas 2007,  31% penyebab kematian anak berumur 1 bulan hingga satu tahun adalah diare. Sedangkan untuk anak berumur satu sampai enam tahun berkisar antara 25%. Angka ini menunjukkan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan terutama anak-anak dibawah lima tahun. 66% dari anak-anak yang menderita diare adalah mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, sehingga mereka terbiasa buang air di sungai atau bahkan selokan.
Oleh karena itu pemerintah harus memperhatikan keadaan masyarakat miskin yang tinggal di di daerah-daerah kumuh perkotaan. Berdasarkan analisis tentang “mega-kota” Jakarta pada tahun 2000 menunjukkan bahwa banyak warga Jakarta yang tinggal didaerah pinggiran kota Jakarta yang tidak berpendidikan dan hanya menamatkan sekolah hanya sampai pada tingkat menengah. Selain itu masyarakat yang kurang berpendidikan sering melakukan kebiasaan yang kurang baik. Angka kematian anak juga lima kali lebih tinggi di daerah pinggiran kota dibandingkan wilayah Jakarta sendiri.
Berikut ini adalah data yang berkaitan dengan rumah tangga yang menggunakan cara lain dalam pembuangan kotoran berdasarkan provinsi yang dilansir oleh Riskesdes pada tahun 2007 dan 2010 :

presentase rumah tangga.PNG
Gambar 4. Prosentase jumlah rumah tangga yang menggunakan
 cara lain dalam pembuangan kotoran berdasarkan provinsi.
Sumber : Riskesdes 2007 dan 2010

Dari data diatas dapat yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat adalah masyarakat perlu meningkatkan kesadaran mereka untuk menjaga lingkungan dan kebersihan tempat tinggal mereka. Salah satu cara sederhananya dengan mencuci tangan menggunakan sabun setelah buang air besar, sebelum makan, sebelum memasak dan sebagainya. Pemerrintahan juga harus terus melakukan upaya-upaya pengelolaan dan pemberlakuan UUD tentang pengelolaan limbah secara bertahap. Terutama untuk daerah-daerah pinggir kota.
    Hendaknya pengelolaan limbah padat dapat diupayakan dengan cara mendaur ulang, atau melakukan usaha 3R yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Pengaktifan dan memperkuat program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Program ini perlu ditanamkan kepada siswa semenjak dari sekolh dasar. STBM merupakan sebuah program yang memiliki lima pilar utama yaitu :
a.       Larangan buang air besar sembarangan.
b.      Mencuci tangan menggunakan sabun
c.       Pengelolaan air minum dan makanan yang aman
d.      Pengelolaan sampah
e.       Pengelolaan limbah cair.
Selain itu partisipasi masyarakat dan pemerintah secara aktif juga dibutuhkan demi keberlanjutan program-program yang telah diterapkan.

Simpulan
Krisis dan permasalahan air di Indonesia merupakan hal yang tidak asing bagi masyarakat terutama bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Pencemaran air serrta kekurangan pasokan air bersih menyebabkan munculnya berbgai macam penyakit. Penyakit-penyakit tersebut biasanya rentan menyerang anak-anak balita, bahkan menimbulkan kematian. Penyakit tersebut muncul karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan. Hal tersebut dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat dan mengamalkan program STBM.
Daftar Rujukan
Yudo, Satmoko, Nusa Idaman Said. 2001. Masalah Pencemaran Air di Jakarta dan Alternative Penanggulangannya. Jurnal Teknologi Lingkungan, (Online), 2 (2) : 199-206, (http:// www.kelair.bppt.go.id/Jtl/2001/vol2-2/11cemar.pdf), diakses 18 maret 2018.
Herlambang,Arie. 2006 . PENCEMARAN AIR DAN STRATEGI PENANGGULANGANNYA. JAI,(Online), 2 (1): 16-29), (https: // www. Researchgate .net /profile /Arie_Herlambang /publication /265569345_PENCEMARAN _AIR_DAN_STRATEGI PENANGGULANGANNYA / links/573e734a08ae9ace841135fe/PENCEMARAN-AIR-DAN-STRATEGI PENANGGULANGANNYA.pdf),diakses 17 maret 2018.                                                                                   


Komentar

Postingan Populer