PRAKTIKUM KARTOGRAFI PERHITUNGAN LUAS LAHAN, KEMIRINGAN LERENG, PENAMPANG MELINTANG, DAN VOLUME GENANGAN
LAPORAN PRAKTIKUM
KARTOGRAFI DASAR
ACARA III
PERHITUNGAN LUAS LAHAN, KEMIRINGAN LERENG, PENAMPANG MELINTANG, DAN
VOLUME GENANGAN
Dosen pengampu : Drs. Rudi Hartono, M. Si
Dibuat oleh :
Nama :
Zahroh Hayati
NIM :
Offering : L
Asisten Praktikum : Lela
Wahyu Ning Tyas
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
2017 / 2018
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM KARTOGRAFI
PERHITUNGAN LUAS LAHAN, KEMIRINGAN LERENG, PENAMPANG MELINTANG DAN
VOLUME GENANGAN
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Laporan Praktikum Kartografi
yang berjudul Penggunaan Peta RBI ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kartografi, telah disahkan dan disetujui pada
Hari :
Tanggal :
Oleh :
ZAHROH HAYATI
170721636559
Mengetahui
Asisten
Praktikum Dosen
Pengampu
Lela
Wahyu Ning Tyas Drs.
Rudi Hartono,M. Si
ACARA III
PRAKTIKUM KARTOGRAFI
PERHITUNGAN LUAS LAHAN, KEMIRINGAN LERENG, PENAMPANG MELINTANG, DAN
VOLUME GENANGAN
I.
TUJUAN
1.
Agar mahasiswa
mengetahui cara menghitung luasan daerah atau lahan pada peta Rupa Bumi
Indonesia dengan menggunakan metode square.
2.
Agar mahasiswa
mengetahui cara menghitung volume genangan dalam sebuah peta Rupa Bumi
Indonesia.
3.
Agar mahasiswa
dapat menghitung ketinggian serta kemiringan lereng suatu daerah.
II.
LANDASAN TEORI
Informasi yang tergambar dalam peta
Rupa bumi Indonesia mencerminkan berbagai tipe informasi dari permukaan bumi.
Informasi geografis yang dapat disadap dari peta antara lain :
·
Jarak
·
Arah
·
Lokasi
·
Luas
·
Ketinggian dan
lereng
a)
Jarak
Factor
jarao hanya merupakan persoalan skala. Tetapi perlu diingat bahwa jarak yang
didapatkan ini adalah jarak horizontal / mendatar. Untuk mendapatkan jarak
permukaan perlu diperhitungkan sudut kemiringan lahan
b)
Arah
Pembacaan
arah biasanya dinyatakan dengan sudut yang mengambil garis utara-selatan untuk
sebagai garis pangkal dan diikiatkan pada suatu titik atau tempat yang
diketahui. Tentang garis pangkal dapat diambil salah satu dari tiga arah utama
yang diketahui yakni utara geografis ( utara meridian = utara sebenarnya).
Tetapi karena penentuan arah di medan pada umumnya dilakukan berdasarkan
kompas, maka diambil sudut utara magnetids sebagai pangkalnya. Ada dua cara
untuk menentukan arah seperti yang dipelajari di laporan sebelumnya yakni :
§ Bearing
§ Azimuth
c)
Lokasi
Cara
menetukan lokasi dengan : a.paralel dan
meridian b.jarak dan arah; c.jarak dan jarak; d.arah dan arah.
d)
Luas
Di
dalam peta sering kita harus memperhitungkan luas. Misalnya luas persawahan,
perkampungan, hutan, dan sebagainya. Apabila bangun dari luasan yang akan
diukur itu teratur, misalnya: berbentuk segitiga, segiempat, trapezium atau
bujur sangkar maka kita tinggal mengukur panjang sisi-sisi bangun yang bersangkutan
dan dimasukkan kedalam rumus luas. Tetapi apabila bentuk wilayah yang akan
diukur tidak teratur maka luas wilayah dapat di ukur dengan cara :
§ Pembuatan kisi atau kotak ( square metode)
Daerah
yang akan di ukur luasannya dibuat kotak-kotak petak yang sam luasnya, misalnya
satu cm2. Kemudian pada batas-batas tepi kotak yang luasnya lebih
dari setengah petak dibulatkan menjadi satu kotak, yang kurang dari satu kotak
dihilangkan. Peralatan yang digunakan dalam metode ini hanya berupa kertas
millimeter, alat tulis, dan penggaris.
§ Pembuatan garis potong (Metode stripped)
Daerah
yang akan di ukur luasannya dibuat garis-garis potong sejajar yang berjarak
sama. Pada bagian tepi dibuat garis keseimbangan. Luas bangun = jumlah luas
segi empat panjang, yakni tinggi dikalikan jumlah sisi-sisinya.
§ Pembuatan segitiga (Triangle metode )
Daerah
dibagia atas segitiga. Segitiga yang luasnya = jumlah luas segitiga + jumlah
luas offsetnya.
Luas
offset =
§ Dengan alat pengukur luas (planimeter)
e)
Tinggi dan
lereng
Untuk
pembacaan tinggi kita perlu mengetahui terlebih dahulu cara pencerminan rupa
bumi kedalam peta. Ada beberapa cara untuk pencerminannya. Dalam hubungannya
dengan penentuan tinggi dan lereng pencerminan rupa bumi dengan garis kontur yang
menolong dalam perhitungan pada peta. Contouring merupakan cara penggambaran
bentuk rupa bumi dengan garis tinggi (contour = garis tinggi = tranchis =
isohypse). Sedangkan garis kontur adalah garis-garis dengan interval tertentu
yang menghubungkan titik-titik yang sama tingginya.
Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak
garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang
mendatar peta.pada umumnya peta dibuat dengan skala tertentu, maka bentuk garis
kontur ini juga akan mengalami pengeilan sesuai dengan skala peta. Gris kontur
berguna karena memungkinkan pengguna peta untuk mengetahui bentuk permukaan
tanah. Untuk memudahkan penggunaan peta, perbedaan tinggi di permukaan bumi
dibuat secara merata dengan jarak yang terpisah atau disebut dengan selang
kontur. Keadaan topografi sangat berpengaruh dalam pemilihan selang kontur.
Klasifikasi
kemiringan lereng menurut Van Zuidam :
0˚-2˚ (0%-2%) = DATAR
2˚-4˚ (2%-7%) = SEDIKIT MIRING
4˚-8˚ (7%-15%) = MIRING
8˚-16˚ (15%-30%) =
AGAK CURAM
16˚-35˚ (30%-70%) =
CURAM
35˚-55˚ (70%-140%) =
SANGAT CURAM
>55˚ (>140%) = CURAM EKSTREM
III.
ALAT DAN BAHAN
a.
Peta Rupa Bumi
Indonesia skala 1: 25.000.
b.
Kertas
millimeter block
c.
Alat tulis
d.
Spidol OHP
merah, biru, dan hitam.
e.
Penggaris
f.
Kalkulator
g.
Kertas mika
IV.
CARA KERJA
1.
Siapkan peta
RBI skala 1 : 25.000 yang akan anda gunakan, lalu pilihlah satu daerah yang
memiliki kontur tertutup.
2.
Mulai menjiplak
kontur yang ada di atas kertas mika.
3.
Pindahkan
kontur yng telah anda buat ke atas kertas grid.
4.
Tariklah garis-
garis pada kontur lurus kebawah sesuai dengan besar kontur yang ada sehingga
terbentuk sebuah pola yang menggambarkan ketinggian atau kemiringan daerah yang
anda jiplak.
5.
Mulai lah
menghitung kemiringan lereng dan luas genangan dengan menggunakan square
method.
6.
Pilihlah suatu
objek di peta RBI yang memiliki objek terbangun dan tak terbangun, terbangun
seperti pemukiman, perkebunan, dan sebagainya. Tak terbangun seperti hutan.
Lalu jiplak lah diatas kertas mika dan pindahkan ke atas kertas grid.
7.
Hitung lah luas
daerah tersebut dengan menggunakn metode square method.
V.
PEMBAHASAN
Pembahasan dalam praktikum acara
ketiga ini adalah tentang menghitung kontur, kemiringan lereng , luas lahan,
dan volume genangan. Perhitungan kontur yang digunakan adalah peta RBI skala 1
: 25.000 bertepatan di gunung kambe. Disini gunung kambe memiliki kontur yang
lumayan berdekatan antara satu garis kontur dengan kontur lainnya. Yang
menggambarkan bahwa gunung kambe ini memiliki kemiringan lereng sekitar 20 %
dan jika dilihat berdasarkan klasifikasi lereng Van Zuidem lereng ini termasuk
yang agak curam. Karena pada lereng yang curam garis kontur lebih rapat sedangkan
pada lereng yang landai biasanya kontur tidak terlalu rapat.
Bahkan pada suatu kontur daerah yang
sangat curam, garis-garis kontur membentuk satu garis. Namun jika dilihat di
lain sisi pada penampakan kontur dip eta RBI skala 1:25.000 ada bagian gunung
kambe yang garis konturnya sangat rapat bahkan hampir membuat satu garis.
Disini dapat diambil kesimpulan tepat disisi tersebut gunung kambe memiliki
kemiringan lereng yang sangat curam.
§ Kemiringan lereng
Rumus :
Jarak
sebenarnya = 1x 25.000
= 25.000 cm
= 250 m
Kemiringan
lereng =
= 0,2
= 0,2 x
100 % = 20 %
=
= 200 m/km.
Nah, dari perhitungan kemiringan
lereng diatas dapat diambil kesimpulan bahwa daerah gunung kambe memiliki
lereng yang agak curam. Kemudian selanjutnya adalah menghitung volume genangan.
Untuk mengetahui volume genangan hal
yang harus dilakukan adalah menghitung setiap luas penampang yang ada dengan
cara menjiplaknya ke kertas millimeter block. Namun karena gambar kontur yang
digunakan pada pata RBI terlalu berhimpitan jadi membutuhkan kertas
mika terlebih dahulu dalam penggambarannya. Setelah itu mulai menjiplak nya ke
kertas millimeter block satu persatu dan menghitung setiap luas penampang
perkontur dengan metode square. Mulai dari lereng pertama sampai dengan yang
paling atas.
§ Menghitung luas penampang :
·
L1 = 500
= N x 1 x 1 x skala2
= 10 x 1 x 1 x 25.0002
= 6.250.000.000 cm2
= 0,62 km2
·
L2 =
550
=
N x 1 x1 skala2
=
8 x 1 x1 x 25.0002
=
5.000.000.000 cm2 = 0,50 km2
·
L3 = 600
=
N x 1 x 1 skala2
=
7 x 1 x 1 x 25.0002
= 4.375.000.000 cm2 = 0,43 km2
·
L4 = 650
=
N x 1 x 1 x skala2
=
5 x 1 x 1 x 25.0002
=
3.125.000.000 cm2 = 0,31 km2
·
L5 = 700
=
N x 1 x 1 x skala2
=
3 x 1 x 1 x 25.0002
=
1.875.000.000 cm2 = 0,18 km2
·
L6 = 750
=
N x 1 x 1 x skala2
=
1 x 1 x 1 x 25.0002
= 625.000.000
cm2 = 0,06 km2
Setelah didapatkan hasil luas tiap
penampangnya hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah menghitung volume
genangan dengan rumus :
Volume genangan = CI x (
) + (
) +………
Volume
genangan = CI =
x 25.000 = 12,5
cm = 0,0125 km
Volume = 0,0125 x (
)(
)(
)(
)(
)
= 0,0125 x
( 0,87 + 0,71 + 0,58 + 0,40 +0,21 )
= 0,0125 x 2,77 = 0,034625 km3 = 34.625.000 m3
Selanjutnya adalah menghitung luas
lahan terbangun dan tak terbangun suatu daerah. lahan terbangun contohnya yang
ada dipersekitaran kita adalah pemukiman. Objek
yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah pemukiman desa TegalHarjo
kecamatan eroko. Adapun metode yang digunakan dalam menghitung luas lahan permukiman
adalah metode square. Dengan rumus tertera dibawah ini.
a)
Luas lahan
terbangun ( pemukiman )
Desa
TegalHarjo kecamatan Eromoko
=
N x 1 x 1 x skala2
=
7 x 1 x 1 x 25.0002
= 4.375.000.000
cm2 = 437.500 m2
Dari perhitungan menggunakan metode
ini diperoleh hasil luas lahan pemukiman yang ada di desa tegal harjo adalah
437.500 m2
Kemudian menghitung luas lahan tak
terbangun. Contoh nyata dalam keseharian kita adalah hutan. Pada praktikum kali
ini adalah menghitung luas hutan yang ada di kecamatan senduro. Dengan masih
menggunakan metode square
b)
Luas lahan tak
terbangun ( hutan )
Kecamatan
senduro
=
N x 1 x 1 x skala2
=
68 x 1x 1 x 25.0002
=
42.500.000.000 cm2 = 4.250.000 m2
Dari
perhitungan diatas dapat diketahui luas hutan di kecamatan senduro adalah
4.250.000 m2.
VI.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat di ambil dari
praktikum kali ini adalah dalam penggunaan peta RBI ada banyak informasi yang
dapat di ambil contohnya seperti kemiringan lereng. Dengan memperhatikan garis
kontur yang ada disuatu daerah maka kita dapat menentukan kemiringan lahan
suatu daerah. Sehingga dapat menentukan bagaimana penggunaaan lahan yang cocok
untuk daerah tertentu. Bahkan dapat menghitung kemiringan lereng suatu daerah
apa itu curam ,landai , terjal, dan sebagainya.
Selain itu mengetahui luas lahan
yang ada disuatu daerah tanpa harus pergi menghitung luas daerah nya langsung.
Cukup dengan menggunakan metode square yang hanya membutuhkan alat-alat
sederhana. Namun begitu perhitungan menggunakan metode ini belum tentu akurat.
Karena masih menggunakan pendapat relative dalam perhitungan nya. Selain
menggunakan metode ini juga ada 3 cara lain yang sudah tertera pada landasan
teori.
VII.
DAFTAR PUSTAKA
Soendjojo Hadwi dan Akhmad Riqqi. 2012. KARTOGRAFI.
Bandung : Penerbit ITB
Suryantoro Agus. 2012. PENGANTAR DASAR
KARTOGRAFI. Malang : Universitas Negeri Malang.
Komentar
Posting Komentar