SKALA DAN PROYEKSI PETA


ACARA I
SKALA DAN PROYEKSI PETA
       I.            TUJUAN
a.       Untuk meneyelesaikan tugas praktikum membuat proyeksi peta kerucut sederhana.
b.      Untuk mengetahui konsep dasar skala proyeksi.
c.       Menegtahui kelebihan dan kekurangan proyeksi kerucut sederhana.
d.      Mengetahui macam-macam skala peta.

    II.            DASAR TEORI
A.    Pengertian peta, skala, dan proyeksi.
Peta adalah gambaran permukaan bumi pada permukaan datar dengan skala tertentu melalui suatu system proyeksi atau gambaran konvensional dari permukaan bumi yang di perkecil dengan skala tertentu serta di sertai dengan symbol dan arah mata angin agar peta tersebut dapat dipahami oleh pengguna. Fungsi dari peta itu sendiri adalah agar dapat memberikan informasi tentang suatu obyek secara optimal dan detail.
Skala peta adalah perbandingan jarak antara dua titik dipeta dengan jarak sebenarnya dari dua titik tersebut di lapangan emnggunakan satuan ukur yang sama. Menurut (hartono 2012:18) skala peta adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sebenarnya di lapangan. Berdasarkan cara penyajian skala pada sebuah peta skala di bagi menjadi tiga yakni :
1)      Skala bilangan / angka /numeric.
Skala angka adalah skala yang penulisannya menggunakan bilangan atau angka. Contohnya = 1: 1.000.000
2)      Skala grafis
skala grafis adalah skala yang penulisannya dalam bentuk grafis yaitu menggambarkan jarak dip eta dengan jarak sebenarnya di lapangan dalam bentuk suatu garis.
3)      Skala pernyataan / verbal.
Skala verbal atau pernyataan adalah skala yang penulisannya menggunakan  ukuran bukan dalam bentuk satuan meter.
Menurut agus suryantoro ada 3 cara memperbesar dan memperkecil skala, yakni :
1)      Square method,
Pada metode ini dilakukan dengan cara membuat grid atau petak-petak pada peta dan pada kertas gambar. Ukuran masing-masing peta dapat disesuaikan dengan skala yang dikehendaki. Cara ini utamanya digunakan apabila tidak terlalu banyak detil daripada peta yang akan dirubah skalanya.
2)      Fotografis,
Pada metode ini dilakukan dengan cara memotret peta yang ada dan  mengatur jarak focus kamera sehingga akan terjadi perbesaran atau pengecilan ukuran skala peta yang dipotret. Pantograph, dengan menggunakan alat perbesaran dan pengecilan skala peta yang system kerjanya hampir sama dengan paralelograph.
3)      Dengan map o graph,
Pada alat ini telah dilengkapi dengan lensa yang dapat digerakkan ke atas ke bawah. cara kerja map o graph hamper sama dengan kamera luscida. Apabila dalam suatu peta belum atau tidak ada di cantumkan ukuran skalanya maka dapat dilakukan beberapa cara untuk menentukan skala pada peta tersebut.
Adapun cara tersebut adalah :
1)      Jarak objek pada peta yang belum ada skalanya dibandingkan dengan jarak obyek yang sama pda foto udara atau peta yang telah ada skalanya.
Rumus : p2 =   x p1
P1 = penyebut skala yang diketahui skalanya.
P2 = penyebut skala yang tidak diketahui skalanya.
D1 = jarak pada peta yang diketahui skalanya.
D2 = jarak pada peta yang tidak diketahui skalanya.
2)      Dengan cara membandingkan jarak obyek dipeta dengan jarak obyek di lapangan yang sama dengan di peta.
3)      Dengan cara menghitung jarak dua garis lintang atau parallel.
4)      Dengan menghitung bentuk-bentuk yang berukuran umum atau standar seperti lapangan sepak bola, lapangan tenis, dan lain-lainnya.
5)      Untuk peta topografi Indonesia penentuan ukuran skala dapat dilakukan dengan menghitung kontur interval nya.
Pada dasarnya kartografi adalah penggambaran suatu obyek permukaan bumi pada suatu bidang datar, mengingat bahwa bumi itu berbentuk lengkung maka sudah pasti terdapat kesalahan dalam penggambaran peta. Oleh karena itu dibutuhkan proyeksi yang bertujuan untuk mengurangi distorsi tersebut.
·         Klasifikasi proyeksi peta berdasarkan garis karakteristiknya ada 3 yaitu :
1.      Proyeksi normal
Yakni proyeksi yang garis karakteristik nya berimpit dengan sumbu bumi.
2.      Proyeksi transversal.
Yakni proyeksi yang garis karakteristiknya tegak lurus dengan sumbu bumi.
3.      Proyeksi oblique
Yaitu proyeksi yang garis karakteristik nya membentuk sudut lancip terhadap sumbu bumi.
·         Klasifikasi proyeksi berdasarkan tingkat kesalahannya ada 3, yaitu :
1.      Proyeksi equivalent
Yakni proyeksi yang mempertahankan kebenaran luas nya.
2.      Proyeksi equidistant
Proyeksi yang mempertahankan kebenaran jaraknya.
3.      Proyeksi conform
Yakni proyeksi yang mempertahankan kebenaran pada bentuk nya.
Menurut Agus Suryantoro pada dasarnya tujuan proyeksi peta adalah memperkecil kesalahan dalam penggambaran bidang lengkung ke bidang datar, namun bagaimanapun kesalahan pasti terjadi. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menentukan proyeksi yang akan di pakai, yakni :
a.       Maksud atau tujuan pemetaan.
b.      Luasan wilayah yang akn digambar.
c.       Bentuk wilayah yang akan digambar.
d.      Lokasi atau letak wilayah yang akan digambar.
e.       Kemudahan dalam pengambarannya.
·         Klasifikasi proyeksi berdasarkan bidang proyeksinya :
1.      Proyeksi azimuthal
Proyeksi azimuth adalah proyeksi yang menggunakan bidang datar. Jika bola bumi menyinggung bidang proyeksi pada salah satu kutub, maka disebut proyeksi azimuthal normal. Jika menyinggung pada salah satu titik di equator maka disebut proyeksi azimuthal equatorial. Jika menyinggung disalah satu titik di sembarang tempat maka disebut proyeksi azimuthal oblique.
2.      Proyeksi silinder.
Proyeksi sislinder adalah proyeksi yang menggunakan bidang silinder atau tabung, kemudian bidang silinder dipotong dan dibuka menjadi datar.
3.      Proyeksi kerucut.
Proyeksi kerucut adalah proyeksi yang bidang proyeksinya adalah kerucut.
4.      Proyeksi universal transverse Mercator.
Proyeksi ini merupakan modifikasi dari system proyeksi transversal Mercator. System grid dan proyeksi yang digunakan baik untuk pemetaan topografi, referensi citra satelit dab aplikasi lainnya yang memerlukan ketelitian untuk penetuan posisi.
·         Klasifikasi proyeksi berdasarkan modifikasi atau gubahan :
1.      Proyeksi bonne (equal area)
Sifat-sifatnya sama luas. Sudut dan jarak benar pada meridian tengah dan pada parallel standart. Semakin jauh dair meridian tengah, bentuknya menjadi sangat terganggu. Baik untuk menggambarkan asia yang letaknya di sekitar khatulistiwa.
2.      Proyeksi sinusoidal
Pada proyeksi ini susut dan jarak yang dihasilkan sesuai dengan meridian tengah dan daerah khatulistiwa sama luas. Baik untuk menggambar daerah kecil dimana saja. Juga cocok untuk daerah yang luas yang terletak jauh dari khatulistiwa.
3.      Proyeksi Mercator
Proyeksi Mercator adalah proyeksi silinder conform, dimana seluruh muka bumi dilukisakan pada bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola bumi. Kemudian silindernya dibuka menjadi bidang datar.
4.      Proyeksi mollweide.
Pada proyeksi ini sama luas untuk berrubah di pinggir peta.
5.      Proyeksi gall
Sifatnya luas, sangat berbeda pada lintang-lintang yang mendekati kutub. Semakin dekat dengan kutub semakin mepet.
6.      Proyeksi homolografik (goode)
Sifatnya sama luas. Merupakan usaha untuk membetulkan kesalahan pada proyeksi mollweide. Baik untuk menggambarkan penyebaran.


 III.            ALAT DAN BAHAN
1.      Alat tulis
2.      Jangka
3.      Penggaris
4.      Busur
5.      Peta dunia / atlas
6.      Kertas manila

 IV.            LANGKAH KERJA

1.      Siapkan kertas manila yang telah dibagi menjadi dua.
2.      Buatlah garis tepi dengan jarak 2 cm.
3.      Buat busur lingkaran dengan jari-jari R.ctg. dengan sudut puncak 360 sin.
4.      Buat meridian – meridian berupa garis- garis radian.
5.      Buat parallel – parallel yang berupa lingkaran berjarak dari parallel standart.

    V.            HASIL PRAKTIKUM
1.      Perhitungan skala
r = 10 x skala
js = 480.000.000
r =  =   
2.      Perhitungan proyeksi
I =
I =
I =  3,14 / 2 = 1,57 cm
Jadi jarak interval pada peta proyeksi kami adalah 1,57 cm.
3.      Hasil peta ( terlampir)


 VI.            PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami membahas tentang peta, skala, dan proyeksi. Proyeksi adalah suatu metode atau cara untuk mengurangi kesalahan atau distorsi dalam pemindahan suatu byek yang ada dipermukaan bumi yang bidang nya lengkung ke bidang datar. Transvormasi dari ellipsoid 3 dimensional menjadi 2 dimensional. Da tiga jenis proyeksi yang secara umum kita kenal. Yaitu proyeksi azimuth, proyeksi silinder, dan proyeksi kerucut. Proyeksi azimuth adalah proyeksi yng bidang nya adalah datar. Proyeksi silinder adalah proyeksi yang bidangnya tabung atau silinder. Proyeksi kerucut adalah proyeksi yang bidang proyeksi nya adalah kerucut.
Pada pembahasan kali ini saya akan berfokus pada praktek pembuatan peta proyeksi kerucut. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Proyeksi kerucut merupakan proyeksi yang menggunakan kerucut sebagai bidang nya. Adapun sebelum melakukan praktek ini ada beberapa hal yang harus dipersiapkan yakni alat-alat berupa alat tulis, atlas/peta ,jangka, busur, penggaris, kertas manila dsb. Lalu kita mulai dapat menggambar proyeksi tersebut dengan langkah-langkah : pertama, menggambar busur dengan jari-jari yang telah ditentukan. Kedua, Buat meridian – meridian berupa garis- garis radian. Ketiga, Buat parallel – parallel yang berupa lingkaran berjarak 2πr dari parallel standart.
Suatu kerucut bila diletakkan pada bola maka kerucut itu akan menyinggung bola bumi sepanjang satu lingkaran. Garis meridian pada proyeksi kerucut dalam keadaan normal berupa garis lurus yang radial. Bila posisinya normal maka garis singgung kerucut dengan bola bumi itu terdapat dalam suatu parallel. Bila kerucut menyinggung bola bumi maka disebut tangent terhadap bola bumi dan berarti hanya mempunyai satu garis parallel standart yang semakin jauh dari garis singgung distorsi akan semakin besar.untuk mengurangi hal itu maka, di usahakan beberapa bidang proyeksi memotong ellipsoid sehingga menghasilkan dua parallel standar yang disebut secant terhadap bola bumi, dan dapat mengurangi distorsi yang terjadi, karena bila daerah yang akan dipetakan membentang dari arah utara-selatan kalau hanya memakai satu parallel standar, maka daerah yang jauh dari garis parallel standar akan mengalami distorsi yang besar.
Proyeksi ini cocok untuk memetakan daerah lintang 45˚ atau lintang tengah. Secara garis besar proyeksi ini dibedakan menjadi tiga yaitu :
1.      Proyeksi kerucut normal/standar.
Proyeksi ini menggunakan kerucut dengan garis singgung dengan bola bumi terletak pada suatu parallel (parallel standart).
2.      Proyeksi kerucut transversal
Pada proyeksi ini sumbu kerucut berada tegak lurus terhadap sumbu bumi.
3.      Proyeksi kerucut oblique
Pada proyeksi ini sumbu kerucut membentuk garis miring terhadap sumbu bumi.
            Ciri-ciri proyeksi kerucut antara lain :
·         Semua garis bujur merupakan garis lurus dan berkonvergensi di kutub bumi.
·         Garis lintang pada proyeksi ini merupakan suatu busur konsentris dengan salah satu kutub bumi sebagai titik pusatnya.
·         Tidak dapat menggambarkan seluruh permukaan bumi.
·         Proyeksi ini tidak merupakan suatu lingkaran sempurna, sehingga baik untuk menggambarkan daerah lintang rendah.   

VII.            KESIMPULAN
·         Proyeksi kerucut merupakan proyeksi yang penggambarannya pada bidang kerucut. Yang apabila digambarkan tidak berupa sebuah lingkaran sempurna, persis seperti kerucut yang di hamparkan.
·         Untuk proyeksi kerucut normal cocok untuk memproyeksikan daerah lintang tengah (miring)
·         Kelemahan dari proyeksi ini adalah perbahan semakin jauh dari gris parallel maka distorsi akan semakin besar. Sehingga yang dilakukan adalah dengan membuat beberapa bidang proyeksi memotong ellipsoid sehingga menghasilkan dua parallel standar yang disebut secant terhadap bola bumi, sehingga distorsi dapat dikurangi.

VIII.            DAFTAR PUSTAKA
Hartono, R. (1990). KARTOGRAFI (Buku Penunjang Perkuliahan). Malang : IKIP Malang
Soendjojo, hadwi dan riqqi ahmad. 2012. KARTOGRAFI. Penerbit ITB. Bandung .

Komentar

Postingan Populer